Pasca mengalami
masa Orde Baru kini Indonesia memasuki era Reformasi. Era yang digadang-gadang
sebagai tombak pembangunan bumi pertiwi dan sebagai perombakan gaya kepemimpinan
bangsa kita yang sudah merdeka.
Sejauh ini
pembangunan di Indonesia memang menjadi sorotan khalayak umum. Hal ini dikarenakan
belum meratanya pembangunan serta asumsi publik yang beranggapan bahwa uang
yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan, kini dialihkan sebagai sarana
untuk menambah pundi-pundi pejabat negeri. Lantas apakah hal tersebut benar?
Salah satu undang-undang
yang mengatur rencana pembangunan adalah Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 yang
berisi tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang disingkat RJP. RJP ini
merupakan suatu rencana pembangunan dalam jangka waktu dua puluh tahun.
Dapatkah pemerintah mewujudkan pembangunan dalam jangka waktu yang relatif lama
tersebut? Seharusnya bisa diwujudkan dengan anggaran pembangunan yang sesuai
dan penggunaan anggaran yang optimal . Untuk menghindari kongkalikong dalam praktik
pembangunan, pemerintah harus lebih jeli lagi dalam mengelola anggaran yang
tidak sedikit nominalnya. Selain menyoroti anggaran, pemerintah juga harus
pintar-pintar memilah dan memilih pihak-pihak yang terlibat agar jatuh di
tangan orang-orang yang bertanggung jawab sehingga dapat berjalan lancar dan
tepat waktu.
Pembangunan di
Indonesia untuk saat ini dikatakan belum merata. Pemerintah cenderung
menggalakkannya di Pulau Jawa, hal ini dikarenakan pusat pemerintahan negara
kita berada di pulau yang terdiri dari enam provinsi ini. Sampai-sampai terjadi
kepadatan penduduk dan kekurangan lapangan tenaga kerja di Pulau Jawa. Untuk menyiasati
hal tersebut pemerintah mengadakan program transmigrasi, selain untuk
meminimalisir juga untuk meratakan jumlah penduduk. Cara yang lain di antaranya
merekrut pegawai dengan sistem kerja
kontrak, meskipun cara ini banyak menimbulkan pro dan kontra.
Tidak sedikit daerah-daerah terpencil di pelosok
negeri ini yang terabaikan. Bahkan, banyak aset yang disumbangkan dari
daerah-daerah tersebut. Di Papua misalnya, wilayah yang aset terbesarnya dari
tambang emas. Sebagai pusat emas seharusnya Papua menjadi wilayah yang
terbilang maju dalam pembangunan mengingat dana yang masuk jumlahnya terbilang
besar. Akan tetapi tidaklah demikian, Papua menjadi daerah yang masih jarang
terjamah. Akses jalan menuju wilayah tersebut terbilang minim dan untuk menuju
salah satu wilayah saja kita harus merogoh kocek yang cukup dalam dibangingkan
jika kita berada di Jawa. Hal ini hanya sebagian kecil perbandingan kemajuan
antara pulau satu dengan pulau yang lain.
Ketidakmerataan
tersebut bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya.
Pertama, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Kedua,
wilayah Indonesia sebagian besar adalah lautan. Kenapa kedua faktor tersebut mempengaruhi? Dengan
keadaan wilayah yang tidak menjadi satu dan dibatasi oleh lautan menyebabkan
akses menuju daerah tujuan menjadi minim juga membutuhkan waktu yang lama.
Transportasi yang mendukung hanyalah kapal dan kendaraan yang bisa diakses
melalui darat sedangkan untuk transportasi udara masih terbatas jumlah dan
muatannya. Seharusnya, petinggi-petinggi negara tidak mengabaikan faktor
penghambat tersebut, justru mereka harus mencari jalan keluar yang cepat dan
tepat. Buat apa mereka duduk di kursi yang nyaman disertai fasilitas bagus jika
tidak memakmurkan rakyatnya.
Di samping mempercantik
tata kota dan suasananya. Kita juga harus meningkatkan sumber daya manusia agar
nantinya orang-orang Indonesia dikenal sebagai kaum cendekia dengan mendirikan
sekolah-sekolah dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai. Tidak adanya
pandangan yang berbeda dan memperlakukan secara adil antara sekolah yang berada
di desa ataupun di kota karena pada hakekatnya semua sekolah itu sama,
sama-sama tempat untuk menuntut imu. Para pendidik juga berperan penting dalam
mencetak generasi penerus yang dapat mengharumkan nama bangsa. Mempersiapkan
pendidik yang benar-benar profesional itu memang penting. Keprofesionalan
pendidik dapat dilihat dari tingkat kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Kalau
saja mempunyai pengajar yang profesional, tentunya akan menghasilkan pelajar
yang bermutu.
Terkadang kita
hanya bisa menggelengkan kepala jika ada calon pendidik yang ingin menjadi
pegawai negeri sipil, tetapi dengan cara yang salah. Mengikuti tes lewat pintu
belakang misalnya. Salah satu potret ketidak jujuran yang mencoreng dunia
pendidikan. Mau jadi apa bangsa kita! jika pendidiknya sudah bermain uang?
Meskipun tidak semua pendidik seperti itu. Harusnya bangsa kita bisa mengaca
pada negara-negara lain yang sistem pendidikannya tergolong mempunyai mutu dan
kualitas yang baik kemudian barulah kita meniru sistem pendidikan yang
sekiranya tepat untuk diterapkan di Indonesia.
Membangun
lingkungan sosial harus dimulai sejak dini. Di sinilah peran Dinas Sosial
sangat diperlukan agar tidak terjadi keledakan jumlah Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial atau biasa disebut dengan PMKS. Hendaknya para orang yang
menjadi bagian dari PMKS lebih dibina oleh Dinas Sosial agar mereka mempunyai
aktivitas yang positif yang lebih menguntungkan mereka dan tidak dipandang sebelah
mata oleh masyarakat umum.
Menoleh pada
perjuangan para bunga bangsa yang telah memerdekakan negara gemah ripah loh
jinawi. Seandainya Dewan Perwakilan Rakyat mampu meneruskan perjuangan mereka
dengan mewujudkan pemerintahan yang pro rakyat. Mereka seharusnya sadar, mereka
dipilih untuk mewujudkan aspirasi rakyat. Janji-janji pemimpin sekarang tidak
semanis saat mereka berkoar-koar di atas mimbar pemilihan. Mereka akan lupa
ketika sudah duduk di singgasana megah dan mewah. Saat ini Indonesia memang
sedang krisis pemimpin. Pemimpin yang dipercaya justru memanfaatkan
kekuasaannya untuk korupsi, bukan untuk membenahi kualitas negara dan seisinya.
Tentunya, hal itu merugikan nama negara dan mengurangi rasa kepercayaan
rakyatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar