Bisakah
kalian membayangkan bagaimana wujud mesin ketik?
Kalau
untuk pertanyaan itu tentunya kalian bisa membayangkan bukan?
Bisakah
kalian mendengarkan bagaimana merdunya suara mesin ketik?
Kalau
untuk pertanyaan ini sepertinya sulit bagi kalian. Apalagi kalau baru sepintas
melihat mesin ketik.
Okelah,
sedikit ulasan mengenai suara mesin ketik. Coba kalian ingat suara keyboard computer
atau laptop kalian saat mengetik. Suaranya tak jauh beda dengan itu tapi dapat
sentuhan lebih “keras” kalau aku mengilustrasikan suaranya “cetok…cetok…cetok”.
Ada
hal yang lebih istimewa lagi bagi mesin ketik. Kalau pakai computer teknik
untuk centering cukup tekan ctrl+e tapi kalau untuk mesin ketik lebih special
lagi tapi tanpa telor.
Caranya
itu dengan menghitung jumlah huruh+spasi terus masih mengkaitkan dengan lebar
kertas dan masih dibagi lagi *sedikit lupa dengan teori ini*. Tapi, tak buatku
lupa dengan sensasi menghitung saat harus mengetik naskah yang berbau
centering.
Hal
yang lebih menarik lagi dari mesin ketik itu adalah alunan suara “kring” saat
akan berganti baris. Suaranya itu mengingatkanku pada alunan suara telfon rumah
bedanya kalau mesin ketik “kring” hanya sekali kalau telfon rumah bisa
berkali-kali.
Dulu
aku sempet ngerasa belajar mengetik dengan mesin ketik itu kurang uptodate. Bukan
tanpa alasan aku mengeluarkan statement ini tapi menurutku di jaman yang
canggih ini kenapa masih ada mesin ketik yang harus aku jumpai tiap seminggu
dua kali. Membosankan sekali. Apalagi ditambah dengan gurunya yang killer. Duh,
buat aku terpana dengan sosok mesin ketiknya eh salah dengan sosok gurunya tapi
dua-duanya boleh juga sih.
Seiring
berjalannya waktu, belajar mengetik dengan mesin ketik itu menyenangkan kawan. Saat
mengetik berada dititik jenuh, ritual yang sering aku lakukan bersama teman
seperjuanganku itu ya dengan cepet-cepetan ngetik. Ibarat kata, aku dan dua
sahabat karibku lagi lomba ngetik pakai “mesin ketik”. Siapa yang ngetik duluan
kebanggannya bisa bilang “yes aku sudah jadi” sambil pasang muka girang eh
bukan tante-tante girang lho ya.
Tapi
kasiannya kalau mesin ketik yang digunakan sebagai sarana lomba mengetik itu
ada yang rusak. Duh, pasti yang kena mesin ketik pasang muka suram sambil
bilang “aaa, mesin ketikku rusak”. Terus yang lain ngga ikut belasungkawa malah
tertawa jahat. Oh dunia memang kejam.
Sebuah
kebanggaan tersendiri ketika aku pernah mendalami bagaimana cara mengetik
dengan mesin ketik manual. Kan nggak semua orang bisa menguasai teknik
bagaimana cara mengetik yang baik dan benar dengan media mesin ketik. Buat sumber
pembicaraan pas lagi ngobro sana-sini juga bisa sekedar sharing gitu. Sayang
seribu sayang aku belum sempat mengabadikan moment yang pas saat aku mengetik
dengan mesin ketik *efek selfie yang merajalela*.
Sebagai
penutup aku akan bilang kepada seluruh mesin ketik di dunia ini “kalian luar
biasa”.