Selasa, 02 April 2013

Tugas Portofolio 3



ABSTRAK

ANALISIS MEMBACA SAVI DALAM MAKALAH PENDEKATAN MEMBACA SAVI

Miss Nusreeyah Deemuleh, Dwi Aprilia, Andika Dwi Purnomo, Ike Widyastuti,  Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012, 8 halaman.

            Salah satu teknik membaca yang menarik menurut penulis adalah teknik membaca yang menggunakan pendekatan dengan gaya SAVI. Pembahasan penelitian ini difokuskan pada  makalah Pendekatan Membaca SAVI karya Miss Nusreeyah Deemuleh, Dwi Aprilia, Andika Dwi Purnomo, Ike Widyastuti. Makalah Pendekatan Membaca SAVI dikemas dengan struktur yang terperinci. Secara garis besar memiliki tiga bab pembahasan  yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup.
            Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengertian pendekatan membaca SAVI dan strategi dalam menerapkan SAVI yang terkandung dalam Makalah Pendekatan Membaca SAVI. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat.
            Dari analisis data dihasilkan tiga pembahasan mengenai membaca SAVI, pengertian membaca SAVI, akronim, dan strategi dalam menerapkan SAVI yang terkandung dalam makalah Pendekatan Membaca SAVI. Dalam membaca SAVI, peneliti menemukan pengertian membaca SAVI dan strategi dalam menerapkan yang terdapat dalam bab pembahasan.
            Membaca SAVI adalah membaca dengan menggunakan teknik Somatis (bersifat raga), Auditori (bersifat suara), Visual (bersifat gambar), dan Intelektual (bersifat merenungkan). Kata SAVI sendiri adalah akronim dari teknik membaca tersebut. Di samping itu, strategi yang digunakan dalam menerapkan SAVI adalah belajar akan efektif dalam keadaan fun, belajar adalah berekreasi bukan mengkonsumsi, belajar yang baik itu bersifat sosial, dan belajar yang baik juga bersifat multi inderawi.

Kata Kunci: membaca SAVI, pengertian membaca SAVI, strategi menerapkan SAVI,
                    akronim.



Senin, 01 April 2013

AKU MASA LALU DAN AKU MASA KINI



Namaku Dwi Aprilia lahir di Sragen, 29 April 1994. Aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Eko Supriyadi dan seorang adik perempuan bernama Tri Oktaviyani. Aku tumbuh di keluarga yang sederhana. Ayahku hanya seorang petani dan ibuku seorang pedagang kasur.  Sejak berumur lima tahun aku mulai ditinggal pergi ibuku ke Malang Jawa Timur untuk menambah penghasilan keluarga kami dan ayahku di rumah menjaga serta merawatku, kakakku juga adikku.
Diwaktu kecil aku sudah dibiasakan untuk hidup mandiri oleh orang tuaku.  Berusaha sendiri dan tidak suka merepotkan orang lain. Dalam belajar pun juga demikian, mengingat latar pendidikan ayahku yang tidak tamat SD dan ibuku yang hanya tamatan SMP, aku lebih sering belajar sendiri. Memahami pelajaran dan mengerjakan tugas yang telah diberikan di sekolah tanpa bertanya ataupun meminta bimbingan dari mereka. Sejak kecil aku dididik untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan mencuci baju. Masa kecilku memang suka bermain, tetapi aku tidak diperbolehkan untuk bermain jauh-jauh dari rumah oleh orang tua. Bagi mereka lebih baik di rumah dari pada menghabiskan waktu untuk bermain. Orang tuaku juga mengajarkanku untuk menabung agar lebih hemat dan bisa beli apa-apa sendiri katanya.
Dalam mendidik anak-anaknya, orang tuaku tidak pernah membedakan satu sama lain. Mereka bersikap adil dan berusaha mencukupi kebutuhan kami. Tidak lupa untuk berusaha menyekolahkan kami sampai ke jenjang perguruan tinggi. Orang tuaku mempunyai prinsip biarpun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sebatas SD, tetapi anak-anaknya harus lebih dari ayah dan ibunya. Oleh karena itu, orang tuaku selalu menomorsatukan pendidikan dibandingkan dengan kepentingan yang lain. Hal itulah yang menambah motivasiku untuk lebih rajin dan lebih giat lagi dalam menggapai cita-cita.
Orang tuaku menerapkan kedisiplinan dalam mendidik anak-anaknya. Kalau ada salah satu di antara kami ada yang bandel, selalu ada hukuman bagi kami. Hukuman tersebut hanya untuk membuat kami jera, agar kami tidak mengulangi kesahalan yang sama dan agar selalu patuh terhadap orang tua. Seringkali aku dinasehati oleh orang tuaku agar tidak merasa iri dengan kelebihan orang lain. Sikap rendah hati selalu ditanamkan dalam keluarga kami. Jangan sampai kita menyombongkan segala sesuatu yang kita punya karena itu hanya akan menjadi buah bibir tetangga saja. Tidak lupa kami diajarkan untuk bersikap sopan serta santun dalam kehidupan bermasyarakat. Bersikap ramah jika bertemu tetangga dan menghormati orang yang lebih tua.
Dalam hal berpakaian kami selalu diajarkan untuk berpakaian secara sopan dan tidak terlalu melihatkan lekuk tubuh. Terlihat tidak etis kalau berpakaian seperti itu. Terlebih aku dan adikku adalah perempuan, jadi harus lebih tertutup pakaiannya. Kakakku yang laki-laki saja tidak diperbolehkan keluar sampai malam dan nongkrong dengan orang-orang yang tidak jelas. Itu semua demi menjaga diri dan nama baik keluargaku.
Hal terpenting dalam didikan orang tuaku adalah agama. Selalu mengingatkan untuk jangan lupa sholat dan memenuhi kewajiban yang lainnya. Sejak kecil aku, kakakku, dan adikku diajarkan untuk sholat dan berpuasa tentunya. Tidak lupa, orang tuaku mengharuskan kami untuk mengikuti kegiatan TPA di daerah sekitarku. Tujuannya agar kami mendapat ilmu agama yang lebih dalam lagi.
Saat aku kelas tiga SD aku pernah mengalami masalah dengan orang tuaku. Pada waktu itu aku merasa dibedakan sendiri dari kakak dan adikku. Sikapku saat itu mungkin masih terbilang labil dan mudah tersinggung. Sampai-sampai aku mengambil keputusan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah nenek yang jaraknya tidak jauh dari rumahku.
Konyol memang jika mengingat kenakalanku. Aku menginap di rumah nenek selama seminggu. Pada waktu itu, aku berangkat sekolah dari rumah nenek dengan bersepeda. Lumayan jauh jaraknya untuk anak seumuranku pada saat itu. Tidak ada rasa takut juga ketika menemuh perjalanan sejauh itu. Justru orang tuaku dan nenekku yang terlalu mengkhawatirkanku.
Seminggu jauh dari rumah membuatku rindu keadaan rumah dan suasana keluarga. Sempat aku menangis ingin pulang tapi aku mencoba bertahan untuk tetap pada pendirianku. Hingga pada akhirnya ibuku ke rumah nenekku untuk menjemputku. Awalnya aku gengsi, tidak mau pulang. Tapi setelah dirayu dan aku minta syarat untuk dibelikan boneka akhirnya aku mau untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku merasa senang dan nyaman bisa berkumpul kembali dengan keluargaku meskipun sempat disinggung karena ulahku yang terbilang nekat.
Prestasiku di sekolah memang tidak terlalu buruk. Sejak SD sampai SMP aku selalu berada di peringkat lima besar. Saat aku kelas XI semester awal nilaiku menurun drastis. Dari yang semula peringkat empat menjadi peringkat sepuluh. Hal itu menjadi suatu pukulan tersendiri bagiku. Sempat aku dimarahi oleh orang tua. Bahkan aku sempat dihukum untuk tidak boleh pergi main selama tiga hari.
Aku memang merasa kecewa dengan prestasiku tersebut. Benar-benar peringkat yang sangat memalukan bagiku. Tapi, aku berjanji kepada orang tuaku untuk memperbaikinya disemester selanjutnya. Setelah kejadian itu aku menjadi lebih semangat belajar dan terus berusaha memperbaiki nilai. Usahaku tersebut membuahkan hasil, disemester kedua aku mendapat peringkat tiga. Sebuah peringkat yang menjadi pembuktian kepada orang tuaku.
Setahun yang lalu aku dimarahi oleh orang tuaku karena pulang terlambat. Saat itu awal-awalnya aku mengikuti jam tambahan disalah satu bimbingan belajar. Jadwal pulang dari jam tambahan sekitar jam 18.00 WIB. Selesai  dari jam tambahan aku sekalian mampir ke warnet  untuk  membuat tugas. Pikirku sekalian keluarnya jadi tidak usah pergi-pergi lagi. Tapi, gara-gara tidak izin membuat orang tuaku khawatir. Ibuku menelfon berkali-kali. Ayahku pun sampai menelfon ke tempat bimbingan belajarku.
Aku yang tidak izin merasa tenang tanpa memikirkan kekhawatiran orang tua. Saat sampai di rumah ibuku dan ayahku menunggu di luar  dengan muka yang cemas. Aku merasa bingung dan ada sesuatu yang aneh. Kemudian, aku minta maaf dan menjelaskan kepada orang tuaku kalau tadi mampir ke warnet untuk membuat tugas. Hal itu membuat mereka marah bercampur rasa khawatir. Akhirnya mereka menasehatiku kalau kemana-mana harus izin dulu agar tidak membuat orang tua khawatir dengan anaknya.
Sekilas tentang anggota keluargaku. Ayahku bernama Sugiman, sosok yang sangat disiplin dan tegas. Ayahku memang orang yang cuek tetapi ayahku selalu memberi kasih sayang untuk anak-anaknya. Salah satu sifat yang aku kagumi dari ayahku adalah pekerja keras. Sejak masih muda bahkan sampai sekarang ayahku sosok orang yang pekerja keras, tekun dan ulet. Itu semua beliau lakukan untuk kehidupan keluarga kami dan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ayahku memang seorang petani, karena tekatnya yang kuat ayahku mampu menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Beliau juga mempunyai sifat yang keras
Ibuku bernama Sri Mulyani, sosok ibu yang menjadi sumber insipirasiku. Ibuku orangnya sabar  dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Namanya juga seorang ibu kebanyakan memiliki sifat yang cerewet dan galak. Ibuku juga seorang yang pekerja keras, rela jauh dari keluarga demi keadaan ekonomi kami. Beliau sosok yang mengalah demi anak-anaknya. Mengesampingkan kebutuhan pribadinya demi kebutuhan utama anaknya. Ibuku juga terkenal pandai memasak. Setiap ada acara di tempat tetanggaku, ibuku selalu menjadi juru masaknya. Beliau sosk yang perhatian terhadap keluarga,  selalu mengingatkan kami untuk tetap menjaga diri saat kami jauh dari keluarga.
 Eko Supriyadi adalah kakakku, aku memang lebih takut kepada kakakku. Sifatnya yang disiplin, tegas, dan pemarah. Tapi, ia sebenarnya baik juga ke adik-adiknya. Kakakku sejak kecil sudah mau bekerja keras. Berbeda dengan aku dan adikku sekarang. Waktu kakakku masih SMP, ia berangkat sekolah dengan sepeda ontel padahal jaraknya sangat jauh dari rumahku. Sekitar 12 km jarak antara rumah dengan sekolahnya dulu. Satu sifat kakakku yang tidak aku suka, yakni malas untuk bersih-bersih. Kakakku memang hanya lulusan SMK, meskipun hanya sebatas itu ia mampu memiliki pekerjaan yang setara dengan lulusan sarjana. Setiap pekerjaan tentunya mempunyai resiko. Ia  sempat dipukuli preman bayaran karena ada salah satu pihak yang merasa iri dengan prestasi kerjanya. Semua masalah ia hadapi dengan sabar meskipun keluarga di rumah terkadang merasa khawatir.
Adikku bernama Tri Oktaviyani, sekarang ia kelas X SMA. Jarak umur antara aku dan adikku sekitar  dua tahun. Aku memang lebih dekat dengan adikku daripada dengan kakakku. Adikku seorang yang pemalu. Bahkan waktu kecil ia cenderung takut kalau bertemu dengan orang banyak. Maka dari itu, orang tuaku menyekolahkan adikku sekitar umur tujuh tahun baru masuk SD. Selain sifat pemalu, adikku orangnya rajin, suka masak, dan tekun. Sejak SMP adikku sudah mulai menambah uang jajan sendiri dengan berjualan pulsa. Hasil jualan pulsa memang tak seberapa, tapi lumayan untuk ditabung. Dalam bidang pelajaran, adikku tidak terlalu pintar dan tidak terlalu bodoh juga. Tapi, orang tuaku tidak terlalu mepermasalahkan hal tersebut. Bagi mereka yang penting anak-anaknya sekolah dan mau berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Sekarang aku akan menceritakan tentang karakteristik sifatku. Aku orang yang cenderung pemalas. Tapi, untuk urusan pendidikan aku berusaha untuk selalu mengutamakannya. Aku orangnya tekun, ulet, dan pemberani. Terkadang aku suka egois dan suka jahil ke teman-temanku. Aku selalu berusaha untuk tetap telihat ceria dihadapan keluarga ataupun teman-teman. Memang aku ini orangnya percaya diri tetapi, kalau ke orang yang baru kenal biasanya aku cenderung pemalu.
Keluarga kami tergolong keluarga yang sederhana. Kesederhanaan itulah yang membuat keluargaku selalu harmonis. Saat kami berkumpul selalu dipenuhi dengan canda dan tawa.. Senyum mereka penuh dengan kehangatan dan penuh dengan binar-binar kebahagiaan. Hal itu yang membuat aku rindu saat aku berada jauh dari mereka.
Kami selalu menyempatkan diri untuk makan bersama. Bagiku masakan ibuku tetap menjadi yang nomor satu jika dibandingkan dengan masakan orang lain. Ibuku terkadang memang sibuk tapi, disela-sela kesibukannya beliau selalu menyempatkan waktunya untuk memasak di rumah.
Aku paling suka suasana saat hujan tiba. Kalau hujan, keluarga kami selalu berkumpul di depan rumah untuk saling berbincang. Bercerita tentang sesuatu ditemani dengan masakan ibu. Terkadang aku dan adikku selalu mengingat masa kecil kami. Saat kami suka bertengkar gara-gara hal kecil. Setiap kami bertengkar pasti ibu selalu berkata hal yang sama. Sampai-sampai kami menirukan gaya ibu saat marah.
Selain saat hujan, kami juga sering berkumpul untuk menonton televisi bersama. Selera kami memang berbeda-beda. Mulai dari ayah dan ibu yang suka sinetron, aku dan adikku yang lebih suka acara anak muda. Tetapi, ayah dan ibuku banyak mengalahnya dari pada aku dan adikku. Acara di televisi memang tidak semuanya mendidik. Orang tuaku selalu menasehati jika ada salah satu acara yang kurang pantas untuk ditiru. Misalnya dengan bernasehat “Jangan seperti itu, tidak baik untuk anak seusia kamu. Sekolah dulu yang rajin biar pintar”. Nasehat tersebut selalu aku terapkan dalam diriku agar aku tidak mengecewakan orang tuaku yang telah bekerja keras demi anak-anaknya.
Suasana lain yang aku rindukan adalah saat bulan ramadhan tiba. Keluargaku selalu sahur bersama dan berbuka puasa bersama. Saat akan sholat tarawih pun kami selalu berangkat bersama-sama ke masjid di daerah kami. Jarak antara masjid dengan rumahku memang tidak dekat. Tapi, kami selalu berjalan kaki untuk  ke sana. Tidak hanya saat sholat tarawih, waktu sholat idul fitri pun kami juga selalu berangkat bersama karena menurut orang tuaku lebih lengkap rasanya jika beribadah dilakukan bersama keluarga.
Aku selalu bersyukur, keluargaku jauh dari pertengkaran yang hebat. Orang tuaku selalu menunjukkan arti penting dari sebuah keluarga. Bagi mereka bertengkar hanya akan menambah masalah dan membuang-buang waktu. Masih banyak hal yang harus dipikirkan daripada hanya bertengkar di depan anak-anaknya.
Keharmonisan keluargaku memang tidak terwujud melalui berapa banyak materi yang kami punya. Bagi keluargaku materi tidak terlalu menjadi prioritas utama yang penting keluargaku selalu diberi kesehatan dan kelancaran untuk beraktivitas. Uang bisa dicari tetapi kebahagiaan tidak bisa dibeli. Bisa melihat senyum mereka saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Senyum mereka adalah semangat utamaku.

MENEROPONG PEMBANGUNAN INDONESIA




Pasca mengalami masa Orde Baru kini Indonesia memasuki era Reformasi. Era yang digadang-gadang sebagai tombak pembangunan bumi pertiwi dan sebagai perombakan gaya kepemimpinan bangsa kita yang sudah merdeka.
Sejauh ini pembangunan di Indonesia memang menjadi sorotan khalayak umum. Hal ini dikarenakan belum meratanya pembangunan serta asumsi publik yang beranggapan bahwa uang yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan, kini dialihkan sebagai sarana untuk menambah pundi-pundi pejabat negeri. Lantas apakah hal tersebut benar?
Salah satu undang-undang yang mengatur rencana pembangunan adalah Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 yang berisi tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang disingkat RJP. RJP ini merupakan suatu rencana pembangunan dalam jangka waktu dua puluh tahun. Dapatkah pemerintah mewujudkan pembangunan dalam jangka waktu yang relatif lama tersebut? Seharusnya bisa diwujudkan dengan anggaran pembangunan yang sesuai dan penggunaan anggaran yang optimal . Untuk menghindari kongkalikong dalam praktik pembangunan, pemerintah harus lebih jeli lagi dalam mengelola anggaran yang tidak sedikit nominalnya. Selain menyoroti anggaran, pemerintah juga harus pintar-pintar memilah dan memilih pihak-pihak yang terlibat agar jatuh di tangan orang-orang yang bertanggung jawab sehingga dapat berjalan lancar dan tepat waktu.
Pembangunan di Indonesia untuk saat ini dikatakan belum merata. Pemerintah cenderung menggalakkannya di Pulau Jawa, hal ini dikarenakan pusat pemerintahan negara kita berada di pulau yang terdiri dari enam provinsi ini. Sampai-sampai terjadi kepadatan penduduk dan kekurangan lapangan tenaga kerja di Pulau Jawa. Untuk menyiasati hal tersebut pemerintah mengadakan program transmigrasi, selain untuk meminimalisir juga untuk meratakan jumlah penduduk. Cara yang lain di antaranya  merekrut pegawai dengan sistem kerja kontrak, meskipun cara ini banyak menimbulkan pro dan kontra.
 Tidak sedikit daerah-daerah terpencil di pelosok negeri ini yang terabaikan. Bahkan, banyak aset yang disumbangkan dari daerah-daerah tersebut. Di Papua misalnya, wilayah yang aset terbesarnya dari tambang emas. Sebagai pusat emas seharusnya Papua menjadi wilayah yang terbilang maju dalam pembangunan mengingat dana yang masuk jumlahnya terbilang besar. Akan tetapi tidaklah demikian, Papua menjadi daerah yang masih jarang terjamah. Akses jalan menuju wilayah tersebut terbilang minim dan untuk menuju salah satu wilayah saja kita harus merogoh kocek yang cukup dalam dibangingkan jika kita berada di Jawa. Hal ini hanya sebagian kecil perbandingan kemajuan antara pulau satu dengan pulau yang lain.
Ketidakmerataan tersebut bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Pertama, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Kedua, wilayah Indonesia sebagian besar adalah lautan.  Kenapa kedua faktor tersebut mempengaruhi? Dengan keadaan wilayah yang tidak menjadi satu dan dibatasi oleh lautan menyebabkan akses menuju daerah tujuan menjadi minim juga membutuhkan waktu yang lama. Transportasi yang mendukung hanyalah kapal dan kendaraan yang bisa diakses melalui darat sedangkan untuk transportasi udara masih terbatas jumlah dan muatannya. Seharusnya, petinggi-petinggi negara tidak mengabaikan faktor penghambat tersebut, justru mereka harus mencari jalan keluar yang cepat dan tepat. Buat apa mereka duduk di kursi yang nyaman disertai fasilitas bagus jika tidak memakmurkan rakyatnya.
Di samping mempercantik tata kota dan suasananya. Kita juga harus meningkatkan sumber daya manusia agar nantinya orang-orang Indonesia dikenal sebagai kaum cendekia dengan mendirikan sekolah-sekolah dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai. Tidak adanya pandangan yang berbeda dan memperlakukan secara adil antara sekolah yang berada di desa ataupun di kota karena pada hakekatnya semua sekolah itu sama, sama-sama tempat untuk menuntut imu. Para pendidik juga berperan penting dalam mencetak generasi penerus yang dapat mengharumkan nama bangsa. Mempersiapkan pendidik yang benar-benar profesional itu memang penting. Keprofesionalan pendidik dapat dilihat dari tingkat kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Kalau saja mempunyai pengajar yang profesional, tentunya akan menghasilkan pelajar yang bermutu.
Terkadang kita hanya bisa menggelengkan kepala jika ada calon pendidik yang ingin menjadi pegawai negeri sipil, tetapi dengan cara yang salah. Mengikuti tes lewat pintu belakang misalnya. Salah satu potret ketidak jujuran yang mencoreng dunia pendidikan. Mau jadi apa bangsa kita! jika pendidiknya sudah bermain uang? Meskipun tidak semua pendidik seperti itu. Harusnya bangsa kita bisa mengaca pada negara-negara lain yang sistem pendidikannya tergolong mempunyai mutu dan kualitas yang baik kemudian barulah kita meniru sistem pendidikan yang sekiranya tepat untuk diterapkan di Indonesia.
Membangun lingkungan sosial harus dimulai sejak dini. Di sinilah peran Dinas Sosial sangat diperlukan agar tidak terjadi keledakan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial atau biasa disebut dengan PMKS. Hendaknya para orang yang menjadi bagian dari PMKS lebih dibina oleh Dinas Sosial agar mereka mempunyai aktivitas yang positif yang lebih menguntungkan mereka dan tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum.
Menoleh pada perjuangan para bunga bangsa yang telah memerdekakan negara gemah ripah loh jinawi. Seandainya Dewan Perwakilan Rakyat mampu meneruskan perjuangan mereka dengan mewujudkan pemerintahan yang pro rakyat. Mereka seharusnya sadar, mereka dipilih untuk mewujudkan aspirasi rakyat. Janji-janji pemimpin sekarang tidak semanis saat mereka berkoar-koar di atas mimbar pemilihan. Mereka akan lupa ketika sudah duduk di singgasana megah dan mewah. Saat ini Indonesia memang sedang krisis pemimpin. Pemimpin yang dipercaya justru memanfaatkan kekuasaannya untuk korupsi, bukan untuk membenahi kualitas negara dan seisinya. Tentunya, hal itu merugikan nama negara dan mengurangi rasa kepercayaan rakyatnya.