Namaku
Dwi Aprilia lahir di Sragen, 29 April 1994. Aku anak ke dua dari tiga
bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Eko Supriyadi dan
seorang adik perempuan bernama Tri Oktaviyani. Aku tumbuh di keluarga yang
sederhana. Ayahku hanya seorang petani dan ibuku seorang pedagang kasur. Sejak berumur lima tahun aku mulai ditinggal
pergi ibuku ke Malang Jawa Timur untuk menambah penghasilan keluarga kami dan
ayahku di rumah menjaga serta merawatku, kakakku juga adikku.
Diwaktu
kecil aku sudah dibiasakan untuk hidup mandiri oleh orang tuaku. Berusaha sendiri dan tidak suka merepotkan
orang lain. Dalam belajar pun juga demikian, mengingat latar pendidikan ayahku
yang tidak tamat SD dan ibuku yang hanya tamatan SMP, aku lebih sering belajar
sendiri. Memahami pelajaran dan mengerjakan tugas yang telah diberikan di
sekolah tanpa bertanya ataupun meminta bimbingan dari mereka. Sejak kecil aku
dididik untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci
piring dan mencuci baju. Masa kecilku memang suka bermain, tetapi aku tidak
diperbolehkan untuk bermain jauh-jauh dari rumah oleh orang tua. Bagi mereka
lebih baik di rumah dari pada menghabiskan waktu untuk bermain. Orang tuaku juga
mengajarkanku untuk menabung agar lebih hemat dan bisa beli apa-apa sendiri
katanya.
Dalam
mendidik anak-anaknya, orang tuaku tidak pernah membedakan satu sama lain.
Mereka bersikap adil dan berusaha mencukupi kebutuhan kami. Tidak lupa untuk
berusaha menyekolahkan kami sampai ke jenjang perguruan tinggi. Orang tuaku
mempunyai prinsip biarpun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sebatas SD,
tetapi anak-anaknya harus lebih dari ayah dan ibunya. Oleh karena itu, orang tuaku
selalu menomorsatukan pendidikan dibandingkan dengan kepentingan yang lain. Hal
itulah yang menambah motivasiku untuk lebih rajin dan lebih giat lagi dalam
menggapai cita-cita.
Orang
tuaku menerapkan kedisiplinan dalam mendidik anak-anaknya. Kalau ada salah satu
di antara kami ada yang bandel, selalu ada hukuman bagi kami. Hukuman tersebut
hanya untuk membuat kami jera, agar kami tidak mengulangi kesahalan yang sama
dan agar selalu patuh terhadap orang tua. Seringkali aku dinasehati oleh orang
tuaku agar tidak merasa iri dengan kelebihan orang lain. Sikap rendah hati
selalu ditanamkan dalam keluarga kami. Jangan sampai kita menyombongkan segala
sesuatu yang kita punya karena itu hanya akan menjadi buah bibir tetangga saja.
Tidak lupa kami diajarkan untuk bersikap sopan serta santun dalam kehidupan
bermasyarakat. Bersikap ramah jika bertemu tetangga dan menghormati orang yang
lebih tua.
Dalam
hal berpakaian kami selalu diajarkan untuk berpakaian secara sopan dan tidak
terlalu melihatkan lekuk tubuh. Terlihat tidak etis kalau berpakaian seperti
itu. Terlebih aku dan adikku adalah perempuan, jadi harus lebih tertutup
pakaiannya. Kakakku yang laki-laki saja tidak diperbolehkan keluar sampai malam
dan nongkrong dengan orang-orang yang tidak jelas. Itu semua demi menjaga diri
dan nama baik keluargaku.
Hal
terpenting dalam didikan orang tuaku adalah agama. Selalu mengingatkan untuk
jangan lupa sholat dan memenuhi kewajiban yang lainnya. Sejak kecil aku,
kakakku, dan adikku diajarkan untuk sholat dan berpuasa tentunya. Tidak lupa,
orang tuaku mengharuskan kami untuk mengikuti kegiatan TPA di daerah sekitarku.
Tujuannya agar kami mendapat ilmu agama yang lebih dalam lagi.
Saat
aku kelas tiga SD aku pernah mengalami masalah dengan orang tuaku. Pada waktu
itu aku merasa dibedakan sendiri dari kakak dan adikku. Sikapku saat itu
mungkin masih terbilang labil dan mudah tersinggung. Sampai-sampai aku
mengambil keputusan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah nenek yang
jaraknya tidak jauh dari rumahku.
Konyol
memang jika mengingat kenakalanku. Aku menginap di rumah nenek selama seminggu.
Pada waktu itu, aku berangkat sekolah dari rumah nenek dengan bersepeda.
Lumayan jauh jaraknya untuk anak seumuranku pada saat itu. Tidak ada rasa takut
juga ketika menemuh perjalanan sejauh itu. Justru orang tuaku dan nenekku yang
terlalu mengkhawatirkanku.
Seminggu
jauh dari rumah membuatku rindu keadaan rumah dan suasana keluarga. Sempat aku
menangis ingin pulang tapi aku mencoba bertahan untuk tetap pada pendirianku.
Hingga pada akhirnya ibuku ke rumah nenekku untuk menjemputku. Awalnya aku
gengsi, tidak mau pulang. Tapi setelah dirayu dan aku minta syarat untuk
dibelikan boneka akhirnya aku mau untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku
merasa senang dan nyaman bisa berkumpul kembali dengan keluargaku meskipun
sempat disinggung karena ulahku yang terbilang nekat.
Prestasiku
di sekolah memang tidak terlalu buruk. Sejak SD sampai SMP aku selalu berada di
peringkat lima besar. Saat aku kelas XI semester awal nilaiku menurun drastis.
Dari yang semula peringkat empat menjadi peringkat sepuluh. Hal itu menjadi
suatu pukulan tersendiri bagiku. Sempat aku dimarahi oleh orang tua. Bahkan aku
sempat dihukum untuk tidak boleh pergi main selama tiga hari.
Aku
memang merasa kecewa dengan prestasiku tersebut. Benar-benar peringkat yang
sangat memalukan bagiku. Tapi, aku berjanji kepada orang tuaku untuk
memperbaikinya disemester selanjutnya. Setelah kejadian itu aku menjadi lebih
semangat belajar dan terus berusaha memperbaiki nilai. Usahaku tersebut
membuahkan hasil, disemester kedua aku mendapat peringkat tiga. Sebuah
peringkat yang menjadi pembuktian kepada orang tuaku.
Setahun
yang lalu aku dimarahi oleh orang tuaku karena pulang terlambat. Saat itu
awal-awalnya aku mengikuti jam tambahan disalah satu bimbingan belajar. Jadwal
pulang dari jam tambahan sekitar jam 18.00 WIB. Selesai dari jam tambahan aku sekalian mampir ke
warnet untuk membuat tugas. Pikirku sekalian keluarnya jadi
tidak usah pergi-pergi lagi. Tapi, gara-gara tidak izin membuat orang tuaku
khawatir. Ibuku menelfon berkali-kali. Ayahku pun sampai menelfon ke tempat
bimbingan belajarku.
Aku
yang tidak izin merasa tenang tanpa memikirkan kekhawatiran orang tua. Saat
sampai di rumah ibuku dan ayahku menunggu di luar dengan muka yang cemas. Aku merasa bingung
dan ada sesuatu yang aneh. Kemudian, aku minta maaf dan menjelaskan kepada
orang tuaku kalau tadi mampir ke warnet untuk membuat tugas. Hal itu membuat
mereka marah bercampur rasa khawatir. Akhirnya mereka menasehatiku kalau
kemana-mana harus izin dulu agar tidak membuat orang tua khawatir dengan
anaknya.
Sekilas
tentang anggota keluargaku. Ayahku bernama Sugiman, sosok yang sangat disiplin
dan tegas. Ayahku memang orang yang cuek tetapi ayahku selalu memberi kasih
sayang untuk anak-anaknya. Salah satu sifat yang aku kagumi dari ayahku adalah
pekerja keras. Sejak masih muda bahkan sampai sekarang ayahku sosok orang yang
pekerja keras, tekun dan ulet. Itu semua beliau lakukan untuk kehidupan
keluarga kami dan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ayahku memang seorang
petani, karena tekatnya yang kuat ayahku mampu menyekolahkan anaknya sampai ke
jenjang perguruan tinggi. Beliau juga mempunyai sifat yang keras
Ibuku
bernama Sri Mulyani, sosok ibu yang menjadi sumber insipirasiku. Ibuku orangnya
sabar dan disiplin dalam mendidik
anak-anaknya. Namanya juga seorang ibu kebanyakan memiliki sifat yang cerewet
dan galak. Ibuku juga seorang yang pekerja keras, rela jauh dari keluarga demi
keadaan ekonomi kami. Beliau sosok yang mengalah demi anak-anaknya.
Mengesampingkan kebutuhan pribadinya demi kebutuhan utama anaknya. Ibuku juga
terkenal pandai memasak. Setiap ada acara di tempat tetanggaku, ibuku selalu
menjadi juru masaknya. Beliau sosk yang perhatian terhadap keluarga, selalu mengingatkan kami untuk tetap menjaga
diri saat kami jauh dari keluarga.
Eko Supriyadi adalah kakakku, aku memang lebih
takut kepada kakakku. Sifatnya yang disiplin, tegas, dan pemarah. Tapi, ia
sebenarnya baik juga ke adik-adiknya. Kakakku sejak kecil sudah mau bekerja
keras. Berbeda dengan aku dan adikku sekarang. Waktu kakakku masih SMP, ia
berangkat sekolah dengan sepeda ontel padahal jaraknya sangat jauh dari
rumahku. Sekitar 12 km jarak antara rumah dengan sekolahnya dulu. Satu sifat
kakakku yang tidak aku suka, yakni malas untuk bersih-bersih. Kakakku memang
hanya lulusan SMK, meskipun hanya sebatas itu ia mampu memiliki pekerjaan yang
setara dengan lulusan sarjana. Setiap pekerjaan tentunya mempunyai resiko.
Ia sempat dipukuli preman bayaran karena
ada salah satu pihak yang merasa iri dengan prestasi kerjanya. Semua masalah ia
hadapi dengan sabar meskipun keluarga di rumah terkadang merasa khawatir.
Adikku
bernama Tri Oktaviyani, sekarang ia kelas X SMA. Jarak umur antara aku dan
adikku sekitar dua tahun. Aku memang
lebih dekat dengan adikku daripada dengan kakakku. Adikku seorang yang pemalu.
Bahkan waktu kecil ia cenderung takut kalau bertemu dengan orang banyak. Maka
dari itu, orang tuaku menyekolahkan adikku sekitar umur tujuh tahun baru masuk
SD. Selain sifat pemalu, adikku orangnya rajin, suka masak, dan tekun. Sejak
SMP adikku sudah mulai menambah uang jajan sendiri dengan berjualan pulsa.
Hasil jualan pulsa memang tak seberapa, tapi lumayan untuk ditabung. Dalam
bidang pelajaran, adikku tidak terlalu pintar dan tidak terlalu bodoh juga. Tapi,
orang tuaku tidak terlalu mepermasalahkan hal tersebut. Bagi mereka yang
penting anak-anaknya sekolah dan mau berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Sekarang
aku akan menceritakan tentang karakteristik sifatku. Aku orang yang cenderung
pemalas. Tapi, untuk urusan pendidikan aku berusaha untuk selalu
mengutamakannya. Aku orangnya tekun, ulet, dan pemberani. Terkadang aku suka
egois dan suka jahil ke teman-temanku. Aku selalu berusaha untuk tetap telihat
ceria dihadapan keluarga ataupun teman-teman. Memang aku ini orangnya percaya
diri tetapi, kalau ke orang yang baru kenal biasanya aku cenderung pemalu.
Keluarga
kami tergolong keluarga yang sederhana. Kesederhanaan itulah yang membuat
keluargaku selalu harmonis. Saat kami berkumpul selalu dipenuhi dengan canda
dan tawa.. Senyum mereka penuh dengan kehangatan dan penuh dengan binar-binar
kebahagiaan. Hal itu yang membuat aku rindu saat aku berada jauh dari mereka.
Kami
selalu menyempatkan diri untuk makan bersama. Bagiku masakan ibuku tetap
menjadi yang nomor satu jika dibandingkan dengan masakan orang lain. Ibuku
terkadang memang sibuk tapi, disela-sela kesibukannya beliau selalu
menyempatkan waktunya untuk memasak di rumah.
Aku
paling suka suasana saat hujan tiba. Kalau hujan, keluarga kami selalu
berkumpul di depan rumah untuk saling berbincang. Bercerita tentang sesuatu
ditemani dengan masakan ibu. Terkadang aku dan adikku selalu mengingat masa
kecil kami. Saat kami suka bertengkar gara-gara hal kecil. Setiap kami
bertengkar pasti ibu selalu berkata hal yang sama. Sampai-sampai kami menirukan
gaya ibu saat marah.
Selain
saat hujan, kami juga sering berkumpul untuk menonton televisi bersama. Selera
kami memang berbeda-beda. Mulai dari ayah dan ibu yang suka sinetron, aku dan
adikku yang lebih suka acara anak muda. Tetapi, ayah dan ibuku banyak
mengalahnya dari pada aku dan adikku. Acara di televisi memang tidak semuanya
mendidik. Orang tuaku selalu menasehati jika ada salah satu acara yang kurang
pantas untuk ditiru. Misalnya dengan bernasehat “Jangan seperti itu, tidak baik
untuk anak seusia kamu. Sekolah dulu yang rajin biar pintar”. Nasehat tersebut
selalu aku terapkan dalam diriku agar aku tidak mengecewakan orang tuaku yang
telah bekerja keras demi anak-anaknya.
Suasana
lain yang aku rindukan adalah saat bulan ramadhan tiba. Keluargaku selalu sahur
bersama dan berbuka puasa bersama. Saat akan sholat tarawih pun kami selalu
berangkat bersama-sama ke masjid di daerah kami. Jarak antara masjid dengan
rumahku memang tidak dekat. Tapi, kami selalu berjalan kaki untuk ke sana. Tidak hanya saat sholat tarawih,
waktu sholat idul fitri pun kami juga selalu berangkat bersama karena menurut
orang tuaku lebih lengkap rasanya jika beribadah dilakukan bersama keluarga.
Aku
selalu bersyukur, keluargaku jauh dari pertengkaran yang hebat. Orang tuaku
selalu menunjukkan arti penting dari sebuah keluarga. Bagi mereka bertengkar
hanya akan menambah masalah dan membuang-buang waktu. Masih banyak hal yang
harus dipikirkan daripada hanya bertengkar di depan anak-anaknya.
Keharmonisan
keluargaku memang tidak terwujud melalui berapa banyak materi yang kami punya.
Bagi keluargaku materi tidak terlalu menjadi prioritas utama yang penting
keluargaku selalu diberi kesehatan dan kelancaran untuk beraktivitas. Uang bisa
dicari tetapi kebahagiaan tidak bisa dibeli. Bisa melihat senyum mereka saja
sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Senyum mereka adalah semangat
utamaku.