Senin, 01 April 2013

AKU MASA LALU DAN AKU MASA KINI



Namaku Dwi Aprilia lahir di Sragen, 29 April 1994. Aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Eko Supriyadi dan seorang adik perempuan bernama Tri Oktaviyani. Aku tumbuh di keluarga yang sederhana. Ayahku hanya seorang petani dan ibuku seorang pedagang kasur.  Sejak berumur lima tahun aku mulai ditinggal pergi ibuku ke Malang Jawa Timur untuk menambah penghasilan keluarga kami dan ayahku di rumah menjaga serta merawatku, kakakku juga adikku.
Diwaktu kecil aku sudah dibiasakan untuk hidup mandiri oleh orang tuaku.  Berusaha sendiri dan tidak suka merepotkan orang lain. Dalam belajar pun juga demikian, mengingat latar pendidikan ayahku yang tidak tamat SD dan ibuku yang hanya tamatan SMP, aku lebih sering belajar sendiri. Memahami pelajaran dan mengerjakan tugas yang telah diberikan di sekolah tanpa bertanya ataupun meminta bimbingan dari mereka. Sejak kecil aku dididik untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mencuci piring dan mencuci baju. Masa kecilku memang suka bermain, tetapi aku tidak diperbolehkan untuk bermain jauh-jauh dari rumah oleh orang tua. Bagi mereka lebih baik di rumah dari pada menghabiskan waktu untuk bermain. Orang tuaku juga mengajarkanku untuk menabung agar lebih hemat dan bisa beli apa-apa sendiri katanya.
Dalam mendidik anak-anaknya, orang tuaku tidak pernah membedakan satu sama lain. Mereka bersikap adil dan berusaha mencukupi kebutuhan kami. Tidak lupa untuk berusaha menyekolahkan kami sampai ke jenjang perguruan tinggi. Orang tuaku mempunyai prinsip biarpun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sebatas SD, tetapi anak-anaknya harus lebih dari ayah dan ibunya. Oleh karena itu, orang tuaku selalu menomorsatukan pendidikan dibandingkan dengan kepentingan yang lain. Hal itulah yang menambah motivasiku untuk lebih rajin dan lebih giat lagi dalam menggapai cita-cita.
Orang tuaku menerapkan kedisiplinan dalam mendidik anak-anaknya. Kalau ada salah satu di antara kami ada yang bandel, selalu ada hukuman bagi kami. Hukuman tersebut hanya untuk membuat kami jera, agar kami tidak mengulangi kesahalan yang sama dan agar selalu patuh terhadap orang tua. Seringkali aku dinasehati oleh orang tuaku agar tidak merasa iri dengan kelebihan orang lain. Sikap rendah hati selalu ditanamkan dalam keluarga kami. Jangan sampai kita menyombongkan segala sesuatu yang kita punya karena itu hanya akan menjadi buah bibir tetangga saja. Tidak lupa kami diajarkan untuk bersikap sopan serta santun dalam kehidupan bermasyarakat. Bersikap ramah jika bertemu tetangga dan menghormati orang yang lebih tua.
Dalam hal berpakaian kami selalu diajarkan untuk berpakaian secara sopan dan tidak terlalu melihatkan lekuk tubuh. Terlihat tidak etis kalau berpakaian seperti itu. Terlebih aku dan adikku adalah perempuan, jadi harus lebih tertutup pakaiannya. Kakakku yang laki-laki saja tidak diperbolehkan keluar sampai malam dan nongkrong dengan orang-orang yang tidak jelas. Itu semua demi menjaga diri dan nama baik keluargaku.
Hal terpenting dalam didikan orang tuaku adalah agama. Selalu mengingatkan untuk jangan lupa sholat dan memenuhi kewajiban yang lainnya. Sejak kecil aku, kakakku, dan adikku diajarkan untuk sholat dan berpuasa tentunya. Tidak lupa, orang tuaku mengharuskan kami untuk mengikuti kegiatan TPA di daerah sekitarku. Tujuannya agar kami mendapat ilmu agama yang lebih dalam lagi.
Saat aku kelas tiga SD aku pernah mengalami masalah dengan orang tuaku. Pada waktu itu aku merasa dibedakan sendiri dari kakak dan adikku. Sikapku saat itu mungkin masih terbilang labil dan mudah tersinggung. Sampai-sampai aku mengambil keputusan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah nenek yang jaraknya tidak jauh dari rumahku.
Konyol memang jika mengingat kenakalanku. Aku menginap di rumah nenek selama seminggu. Pada waktu itu, aku berangkat sekolah dari rumah nenek dengan bersepeda. Lumayan jauh jaraknya untuk anak seumuranku pada saat itu. Tidak ada rasa takut juga ketika menemuh perjalanan sejauh itu. Justru orang tuaku dan nenekku yang terlalu mengkhawatirkanku.
Seminggu jauh dari rumah membuatku rindu keadaan rumah dan suasana keluarga. Sempat aku menangis ingin pulang tapi aku mencoba bertahan untuk tetap pada pendirianku. Hingga pada akhirnya ibuku ke rumah nenekku untuk menjemputku. Awalnya aku gengsi, tidak mau pulang. Tapi setelah dirayu dan aku minta syarat untuk dibelikan boneka akhirnya aku mau untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku merasa senang dan nyaman bisa berkumpul kembali dengan keluargaku meskipun sempat disinggung karena ulahku yang terbilang nekat.
Prestasiku di sekolah memang tidak terlalu buruk. Sejak SD sampai SMP aku selalu berada di peringkat lima besar. Saat aku kelas XI semester awal nilaiku menurun drastis. Dari yang semula peringkat empat menjadi peringkat sepuluh. Hal itu menjadi suatu pukulan tersendiri bagiku. Sempat aku dimarahi oleh orang tua. Bahkan aku sempat dihukum untuk tidak boleh pergi main selama tiga hari.
Aku memang merasa kecewa dengan prestasiku tersebut. Benar-benar peringkat yang sangat memalukan bagiku. Tapi, aku berjanji kepada orang tuaku untuk memperbaikinya disemester selanjutnya. Setelah kejadian itu aku menjadi lebih semangat belajar dan terus berusaha memperbaiki nilai. Usahaku tersebut membuahkan hasil, disemester kedua aku mendapat peringkat tiga. Sebuah peringkat yang menjadi pembuktian kepada orang tuaku.
Setahun yang lalu aku dimarahi oleh orang tuaku karena pulang terlambat. Saat itu awal-awalnya aku mengikuti jam tambahan disalah satu bimbingan belajar. Jadwal pulang dari jam tambahan sekitar jam 18.00 WIB. Selesai  dari jam tambahan aku sekalian mampir ke warnet  untuk  membuat tugas. Pikirku sekalian keluarnya jadi tidak usah pergi-pergi lagi. Tapi, gara-gara tidak izin membuat orang tuaku khawatir. Ibuku menelfon berkali-kali. Ayahku pun sampai menelfon ke tempat bimbingan belajarku.
Aku yang tidak izin merasa tenang tanpa memikirkan kekhawatiran orang tua. Saat sampai di rumah ibuku dan ayahku menunggu di luar  dengan muka yang cemas. Aku merasa bingung dan ada sesuatu yang aneh. Kemudian, aku minta maaf dan menjelaskan kepada orang tuaku kalau tadi mampir ke warnet untuk membuat tugas. Hal itu membuat mereka marah bercampur rasa khawatir. Akhirnya mereka menasehatiku kalau kemana-mana harus izin dulu agar tidak membuat orang tua khawatir dengan anaknya.
Sekilas tentang anggota keluargaku. Ayahku bernama Sugiman, sosok yang sangat disiplin dan tegas. Ayahku memang orang yang cuek tetapi ayahku selalu memberi kasih sayang untuk anak-anaknya. Salah satu sifat yang aku kagumi dari ayahku adalah pekerja keras. Sejak masih muda bahkan sampai sekarang ayahku sosok orang yang pekerja keras, tekun dan ulet. Itu semua beliau lakukan untuk kehidupan keluarga kami dan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ayahku memang seorang petani, karena tekatnya yang kuat ayahku mampu menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Beliau juga mempunyai sifat yang keras
Ibuku bernama Sri Mulyani, sosok ibu yang menjadi sumber insipirasiku. Ibuku orangnya sabar  dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Namanya juga seorang ibu kebanyakan memiliki sifat yang cerewet dan galak. Ibuku juga seorang yang pekerja keras, rela jauh dari keluarga demi keadaan ekonomi kami. Beliau sosok yang mengalah demi anak-anaknya. Mengesampingkan kebutuhan pribadinya demi kebutuhan utama anaknya. Ibuku juga terkenal pandai memasak. Setiap ada acara di tempat tetanggaku, ibuku selalu menjadi juru masaknya. Beliau sosk yang perhatian terhadap keluarga,  selalu mengingatkan kami untuk tetap menjaga diri saat kami jauh dari keluarga.
 Eko Supriyadi adalah kakakku, aku memang lebih takut kepada kakakku. Sifatnya yang disiplin, tegas, dan pemarah. Tapi, ia sebenarnya baik juga ke adik-adiknya. Kakakku sejak kecil sudah mau bekerja keras. Berbeda dengan aku dan adikku sekarang. Waktu kakakku masih SMP, ia berangkat sekolah dengan sepeda ontel padahal jaraknya sangat jauh dari rumahku. Sekitar 12 km jarak antara rumah dengan sekolahnya dulu. Satu sifat kakakku yang tidak aku suka, yakni malas untuk bersih-bersih. Kakakku memang hanya lulusan SMK, meskipun hanya sebatas itu ia mampu memiliki pekerjaan yang setara dengan lulusan sarjana. Setiap pekerjaan tentunya mempunyai resiko. Ia  sempat dipukuli preman bayaran karena ada salah satu pihak yang merasa iri dengan prestasi kerjanya. Semua masalah ia hadapi dengan sabar meskipun keluarga di rumah terkadang merasa khawatir.
Adikku bernama Tri Oktaviyani, sekarang ia kelas X SMA. Jarak umur antara aku dan adikku sekitar  dua tahun. Aku memang lebih dekat dengan adikku daripada dengan kakakku. Adikku seorang yang pemalu. Bahkan waktu kecil ia cenderung takut kalau bertemu dengan orang banyak. Maka dari itu, orang tuaku menyekolahkan adikku sekitar umur tujuh tahun baru masuk SD. Selain sifat pemalu, adikku orangnya rajin, suka masak, dan tekun. Sejak SMP adikku sudah mulai menambah uang jajan sendiri dengan berjualan pulsa. Hasil jualan pulsa memang tak seberapa, tapi lumayan untuk ditabung. Dalam bidang pelajaran, adikku tidak terlalu pintar dan tidak terlalu bodoh juga. Tapi, orang tuaku tidak terlalu mepermasalahkan hal tersebut. Bagi mereka yang penting anak-anaknya sekolah dan mau berusaha untuk menjadi yang terbaik.
Sekarang aku akan menceritakan tentang karakteristik sifatku. Aku orang yang cenderung pemalas. Tapi, untuk urusan pendidikan aku berusaha untuk selalu mengutamakannya. Aku orangnya tekun, ulet, dan pemberani. Terkadang aku suka egois dan suka jahil ke teman-temanku. Aku selalu berusaha untuk tetap telihat ceria dihadapan keluarga ataupun teman-teman. Memang aku ini orangnya percaya diri tetapi, kalau ke orang yang baru kenal biasanya aku cenderung pemalu.
Keluarga kami tergolong keluarga yang sederhana. Kesederhanaan itulah yang membuat keluargaku selalu harmonis. Saat kami berkumpul selalu dipenuhi dengan canda dan tawa.. Senyum mereka penuh dengan kehangatan dan penuh dengan binar-binar kebahagiaan. Hal itu yang membuat aku rindu saat aku berada jauh dari mereka.
Kami selalu menyempatkan diri untuk makan bersama. Bagiku masakan ibuku tetap menjadi yang nomor satu jika dibandingkan dengan masakan orang lain. Ibuku terkadang memang sibuk tapi, disela-sela kesibukannya beliau selalu menyempatkan waktunya untuk memasak di rumah.
Aku paling suka suasana saat hujan tiba. Kalau hujan, keluarga kami selalu berkumpul di depan rumah untuk saling berbincang. Bercerita tentang sesuatu ditemani dengan masakan ibu. Terkadang aku dan adikku selalu mengingat masa kecil kami. Saat kami suka bertengkar gara-gara hal kecil. Setiap kami bertengkar pasti ibu selalu berkata hal yang sama. Sampai-sampai kami menirukan gaya ibu saat marah.
Selain saat hujan, kami juga sering berkumpul untuk menonton televisi bersama. Selera kami memang berbeda-beda. Mulai dari ayah dan ibu yang suka sinetron, aku dan adikku yang lebih suka acara anak muda. Tetapi, ayah dan ibuku banyak mengalahnya dari pada aku dan adikku. Acara di televisi memang tidak semuanya mendidik. Orang tuaku selalu menasehati jika ada salah satu acara yang kurang pantas untuk ditiru. Misalnya dengan bernasehat “Jangan seperti itu, tidak baik untuk anak seusia kamu. Sekolah dulu yang rajin biar pintar”. Nasehat tersebut selalu aku terapkan dalam diriku agar aku tidak mengecewakan orang tuaku yang telah bekerja keras demi anak-anaknya.
Suasana lain yang aku rindukan adalah saat bulan ramadhan tiba. Keluargaku selalu sahur bersama dan berbuka puasa bersama. Saat akan sholat tarawih pun kami selalu berangkat bersama-sama ke masjid di daerah kami. Jarak antara masjid dengan rumahku memang tidak dekat. Tapi, kami selalu berjalan kaki untuk  ke sana. Tidak hanya saat sholat tarawih, waktu sholat idul fitri pun kami juga selalu berangkat bersama karena menurut orang tuaku lebih lengkap rasanya jika beribadah dilakukan bersama keluarga.
Aku selalu bersyukur, keluargaku jauh dari pertengkaran yang hebat. Orang tuaku selalu menunjukkan arti penting dari sebuah keluarga. Bagi mereka bertengkar hanya akan menambah masalah dan membuang-buang waktu. Masih banyak hal yang harus dipikirkan daripada hanya bertengkar di depan anak-anaknya.
Keharmonisan keluargaku memang tidak terwujud melalui berapa banyak materi yang kami punya. Bagi keluargaku materi tidak terlalu menjadi prioritas utama yang penting keluargaku selalu diberi kesehatan dan kelancaran untuk beraktivitas. Uang bisa dicari tetapi kebahagiaan tidak bisa dibeli. Bisa melihat senyum mereka saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Senyum mereka adalah semangat utamaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar