Selasa, 25 Juni 2013

TUGAS AKHIR


RESENSI NOVEL
 DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
KARYA TERE LIYE
DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH MEMBACA KOMPREHENSIF
PENGAMPU M. FAKHRUR SAIFUDIN




 



  

DISUSUN OLEH:
DWI APRILIA         A310120012




PROGRAM BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013






A.   LATAR BELAKANG
Judul Buku            : DAUN YANG JATUH TAK
PERNAH MEMBENCI ANGIN
Pengarang             : Tere Liye
Penerbit                 : PT. GRAMEDIA PUSTAKA
 UTAMA
Tahun Terbit          : 2010
Tebal Buku            : 264 halaman, 20 cm
Harga Buku           : Rp 43.000,-


Hal yang membuat menarik saat saya akan membaca novel ini adalah judulnya. “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” sebuah judul yang membuat saya penasaran dengan ceritanya dan judul yang sangat menarik perhatian saya. Awalnya saya pikir novel ini bercerita tentang sebuah percintaan di mana salah satu diantaranya tersakiti kemudian mengikhlaskan kekasihnya tanpa membencinya. Tapi ternyata bukan, Tere Liye menyajikannya dalam bentuk cerita yang berbeda dari apa yang saya kira. Sulit memang untuk mencari tahu biografi dari Tere Liye yang sebenarnya. Dalam novelnya pun penulis ini tidak pernah mencantumkan biografinya. Hanya menuliskan alamat email darwisdarwis@yahoo.com dan alamat fans page di facebook Darwis Tere-Liye. Bahkan, saat saya menghadiri seminarnya ia meminta nama Darwis itu dihapus saja, karena kebanyakan dari pembaca mengenalnya dengan nama pena Tere Liye. Sungguh seorang penulis yang low profile.
Pada saat saya membaca halaman awal novel ini terdapat beberapa bait kata-kata yang membuat saya mulai memasuki bagaimana cerita novel ini. Bait pertama  Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang baik.”
Dari bait pertama novel tersebut diceritakan Tania dan adiknya Dede adalah pengamen cilik yang biasa mengamen dari bus satu ke bus lain. Sampai pada suatu malam, saat mereka mengamen disalah satu bus kaki Tania menginjak paku. Mereka memang tidak pernah memakai alas kaki karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli alas kaki. Hal ini membuat seorang pemuda bernama Danar tersentuh hatinya. Hingga akhirnya Danar membantu Tania dengan membalut luka tersebut menggunakan sapu tangan.
Bait kedua dan ketiga dari halaman awal novel tersebut:
 Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.”
“Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku dikepang dua.”
 Sejak saat itu Danar mengubah kehidupan Tania dan keluarganya. Mereka mulai pindah rumah dari rumah kardus ke rumah kontrakan. Tania dan Dede pun bisa bersekolah lagi. Danar juga sering mengajak mereka ke sebuah toko buku yang akhirnya toko buku tersebut menjadi tempat favorit mereka. Mulai dari toko buku itulah, Tania mulai merasa jatuh cinta dengan Danar. Sosok pria yang menjadi malaikat di keluarganya. Pria yang berjarak umur empat belas tahun dengannya. Semenjak saat itu Tania berjanji akan menghormatinya setelah Ibunya. Ibu Tania mulai sembuh dari sakitnya dan mulai bekerja menjadi tukang cuci di laundry. Sampai pada suatu hari Ibu Tania memutuskan untuk membuat usaha kue yang akhirnya usaha tersebut berkembang pesat.
Waktu pun berlalu, Ibu Tania mulai sakit-sakitan lagi. Sakitnya pun semakin parah hingga merenggut nyawa ibunya. Tania yang tegar semenjak sepeninggalan ibunya kini tumbuh menjadi gadis dewasa yang pintar dan cantik. Tania akhirnya menuruti nasehat Danar untuk  melanjutkan sekolahnya ke Singapura dengan mengikuti progam beasiswa yang diselenggarakan pemerintah.
Bait keempat dari halaman awal novel tersebut: “Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah.... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun.... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.”
Hubungan komunikasi antara Tania dan Danar pun masih baik-baik saja meskipun kini Tania melanjutkan sekolahnya di Singapura. Mereka masih berhubungan melalui chatting ataupun telfon. Hingga akhirnya semua berubah setelah Tania mendengar kabar bahwa Danar akan menikah dengan Kak Ratna. Hatinya hancur dan memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan tersebut, selang dua tahun kemudian Tania memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Saat bertemu dengan Danar, Tania merasa seperti ada jarak antara mereka. Ia tak menyangka semudah itukah jarak tersebut ada seperti bumi yang tiba-tiba merekah.
Novel tersebut dikemas dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami ketika membacanya. Setting dari certia novel tersebut juga jelas sehingga kita tidak terlalu sulit untuk mengimajinasikannya. Jalan cerita yang unik dan menarik seperti diambil dari kehidupan nyata. Dari novel ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa meskipun kehidupan kita sedang berada di bawah tetapi jika kita mau berusaha mengubahnya dengan kemauan yang penuh maka kita bisa mengubahnya. Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini beralur mundur dan campuran. Kedua alur tersebut membuat saya terkadang sulit untuk menerka jalan ceritanya. Tapi saya tidak menyesal membaca novel ini, novel yang memuat banyak pelajaran bagi kehidupan.

B.   JENIS NOVEL
Novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” ini beraliran romantis sentimentalis.

C.   PENILAIAN
Unsur intrinsik dalam novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah:
1.      Tema : Novel tersebut bertema kisah cinta yang tak akan pernah tersampaikan.
2.      Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama.
3.      Penokohan:
a.       Tania memiliki sifat tekun, ramah, konsisten dan pantang menyerah.
b.      Dede memiliki sifat pandai, iseng, bisa menjaga rahasia dan polos.
c.       Ibu memiliki sifat tekun, tidak ingin merepotkan orang lain serta sabar.
d.      Danar memliki sifat ringan tangan, pemendam rasa, tanggung jawab.
e.       Ratna memiliki sifat sabar, tidak pencemburu dan tidak suka berperasangka buruk.
4.      Gaya Bahasa:
a.       Personifikasi:
1)      Hujan deras turun membungkus kota ini (hal. 13).
2)      Menuju tempat rumah kardus kami dulu berdiri kokoh dihajar   hujan deras ditimpa terik matahari (hal. 231)
b.      Hiperbola:
Demi membaca e-mail berdarah-darah itu, esoknya aku memutuskan pulang segera ke Jakarta (hal. 230).
c.       Metafora:
Bagian tajamnya menghadap ke atas begitu saja, dan tanpa ampun seketika menghujam kakiku yang sehelaipun tak beralas saat melewatinya (hal. 22).
5.      Setting :
a.       Tempat     : rumah kardus dan kontrakan, toko buku, asrama.
b.      Waktu      : pagi, siang, sore, dan malam.
c.       Suasana    : senang, sedih, hening, duka, rindu.
6.      Alur/Plot:
Pada awal cerita novel ini beralur mundur tetapi pada akhir cerita novel ini beralur campuran.
a.       Perkenalan:
Saat Tania kakinya terkena paku kemudian Danar menolongnya. Mulai saat itulah Danar akrab dengan Tania dan Dede. Danar pun juga sering mengunjungi keluarga Tania dan mulai akrab dengan ibu Tania. Kehidupan keluarga Tania juga tertolong semenjak ada Danar.
b.      Pertikaian:
Berawal ketika Danar memutuskan menikah dengan Ratna. Mendengar kabar tersebut Tania memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan tersebut karena ia tidak ingin sakit melihatnya. Semenjak pernikahan tersebut hubungan komunikasi Danar dan Tania semakin merenggang.
c.       Klimaks:
Pertemuan antara Tania dan Danar di bawah Pohon Linden, pohon tersebut berada didekat bekas rumah kardus Tania dulu. Di situlah Tania dan Danar mengungkapkan perasaan masing-masing.
d.      Antiklimaks:
Danar dan Tania mengetahui bahwa Ratna telah hamil empat bulan. Mulai saat itulah Tania memutuskan untuk menetap di Singapura. Ia tidak ingin kembali lagi ke Indonesia karena tidak ingin merasakan kembali sakitnya rasa itu dan berusaha mebuang semua kenangan antara dia dengan Danar.
7.      Amanat:
Dalam novel ini beramanat bahwa ketika kamu menyukai seseorang ungkapkanlah. Ceritakan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Agar kita tidak hanya memendam perasaan saja.
Novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” akan saya bandingkan dengan novel “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”. Novel tersebut adalah salah satu novel karya Tere Liye sebelumnya yang dicetak pada tahun 2009. Kedua novel ini mempunyai beberapa kesamaan dalam ceritanya.
Kedua novel ini mempunyai tema yang sama, yaitu sebuah percintaan yang juga melibatkan masalah sosial. Diceritakan bahwa sosok Ray yang semula hanya pengamen bisa menjadi seorang yang bekerja dengan sekelas para insinyur. Begitu juga Tania yang semula hanya pengamen bisa menikmati pendidikan di Singapura. Kedua tokoh ini mampu meraih kesuksesan karirnya yang berawal dari seorang pengamen.
Dilihat dari alurnya kedua novel ini mempunyai jenis alur yang sama pada awal ceritanya yaitu beralur mundur. Dalam novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu alur mundurnya terletak pada saat sosok Ray melihat kembali masa lalunya dengan seorang yang memiliki wajah menyenangkan.
Setting novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu hampir sama dengan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Pada novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu juga mengambil setting di rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Ray sebelum ia menikah. Kedua novel ini mempunyai jenis penokohan yang sama dengan melibatkan tokoh yang baru disetiap ceritanya tetapi juga tidak melupakan peran tokoh utamanya.
Kesamaan dalam teks dari kedua novel tersebut diantaranya:
1.      Mempunyai tempat yang difavoritkan oleh tokoh utama dalam kedua novel.
a.       Malam ini, entah sudah berapa kali aku tersenyum, menyeringai sendirian berdiri di balik kaca jendela lantai dua toko buku. Dan tahukah, itulah yang aku lakukan sepanjang seminggu terakhir ini. Menatap pemandangan yang sam adi depan. Mengenang kenangan yang sama. Aku seperti kaset yang memutarulang semua kejadian itu. (Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, hal. 51).
b.      Ray menghela napas. Tidak ada rembulan, peduli amat, dia masih bisa duduk di atas tower air  milik warga. Maka melangkah Ray menuju tiang-tiang besi. Memanjat tiang tower setinggi sepuluh meter. Kemudian duduk menjuntai persis di sebelah gentong raksasa berwarna merah muda. (Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hal. 149).
2.      Salah satu tokoh tidak memberikan identitas dari setiap karyanya.
a.       “Kamu pernah membaca buku ini, kan?” Dia menunjuk sebuah dongeng. Aku mengangguk. Buku itu bagus. Favoritku malah. Aku menyimpannya di dekat tempat tidur. Selalu kubaca berulang-ulang.
“Akulah yang menulisnya”. Dia tersenyum.
Aku tak mengerti menatapnya berkejap-kejap.
Bukan karena tak percaya. Tetapi sungguhkah?
“Bukan.... di sana yang emnulisnya berbeda?”
Dia tersenyum sambil mengusap rambut hitam legamku yang malam itu kubiarkan tergerai. Menyengir kecil.
“Yaa.... itu nama lainnya , Tania. Nama samaran.... alias.”
(Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, hal. 69).
b.      “sepuluh tahun kemudian, saat Ilham sudah benar-benar siap, kesempatan baiknnya baru datang. Kau tidak tahu memang karena Ilham selama sepuluh tahun terakhir itu selain belajar bagaimana membuat lukisan yang baik, juga mendapat bonus dari kegagalan sebelumnya: belajar tentang kerendahan-hati. Ilham memutuskan untuk menuliskan nama disetiap lukisannya.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hal. 170).
3.      Kedua novel ini menceritakan tokohnya sebagai pengamen sebelum mereka meraih sukses.
a.       Sudah empat lagu, bus hampir tiba di tujuan akhirnya. Cukup. Aku mengeluarkan kantong plastik lecek bekas permen. Mengedarkannya dari depan ke belakang. Berharap kebaikan sedang bersemayam di hati orang-orang yang sedang kelelahan tersebut. Adikku mengintil mengikuti. Kencrengan tutup botol masuk kantong celana kumuh.
(Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, hal. 22).
b.      Ray bangun saat matahari pagi sudah tinggi. Mandi seadanya, lantas berangkat menenteng gitar menuju stasiun terdekat. Memulai hari dengan mengamen. Mengakhiri hari dengan mengamen. Pulang larut malam. Kelelahan. Langsung tertidur di atas selembar tikar butut dan bantal tengik.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hal. 143).
4.      Membuatkan makanan untuk seseorang yang dicintai.
a.       Itu pujian ketiganya selama satu setengah tahun terakhir. Dan demi menatap mata bercahaya itu, aku segera berjanji dalam hati: setiap minggu aku akan selalu membawa kue buatanku untuknya: dan... aku hanya akan membuat kue untuknya.
(Daun yang Jatuh Tak PERNAH Membenci Angin, hal. 49).
b.      Kiriman-kiriman Puding Pisang dari Vin. Surat-surat dari Vin. Gadis itu rajin mengirimkannya.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hal. 355).
5.      Kehilangan sosok orang yang berarti dalam kehidupannya.
a.       Aku tahu apa maksudnya. Karena dalam sekejap kemudian Ibu sudah jatuh tertidur. Aku berteriak panik. Dia dan Kak Ratna berlari tergesa masuk ke dalam ruangan. Ibu tak pernah bangun lagi dari pingsannya.
(Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, hal. 61).
b.      Ray mengangguk pelan. Sungguh. Ya Tuhan, dia sungguh ridha dengan apa yang dilakukan istrinya selama ini. Sungguh ikhlas atas semua perlakuak istrinya. Dan anggukan itu “mahal” sekali harganya. Anggukan itu mengantar semuanya.
Mata indah istrinya pelan menutup.
Pergi. Selamanya.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hal. 310).
6.      Meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan agar bisa sedikit demi sedikit melupakan kenangan indah tersebut.
a.       Sehari setelah Ibu meninggal, aku dan adikku pindah ke kontrakannya. Kontrakan Ibu dikosongkan (”Biar mereka bisa segera melupakan semua kejadian menyakitkan ini,” itu katanya kepada Kak Ratna saat berbenah-benah pindah).
(Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, hal. 67).
b.      Hari ini Ray memutuskan pergi. Pergi menjauh. Dia tidak kuasa berada di rumah lereng perbukitan. Setiap kali berada di sana, semua kenangan itu kembali mengungku ng kepala. Jangankan menatap rajutan pakaian bayi itu, hanya menatap rumah, Ray seolah-olah bisa melihat mereka berdua saling menggelitiki. Tertawa.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu, hal. 322).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar