RESENSI
NOVEL
DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN
KARYA
TERE LIYE
DISUSUN
GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH MEMBACA KOMPREHENSIF
PENGAMPU
M. FAKHRUR SAIFUDIN
DISUSUN
OLEH:
DWI
APRILIA A310120012
PROGRAM
BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
A.
LATAR
BELAKANG
Judul
Buku : DAUN YANG JATUH TAK
PERNAH MEMBENCI ANGIN
Pengarang :
Tere Liye
Penerbit :
PT. GRAMEDIA PUSTAKA
UTAMA
Tahun
Terbit : 2010
Tebal
Buku : 264 halaman, 20 cm
Harga
Buku : Rp 43.000,-
Hal yang membuat menarik saat saya akan membaca
novel ini adalah judulnya. “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” sebuah
judul yang membuat saya penasaran dengan ceritanya dan judul yang sangat
menarik perhatian saya. Awalnya saya pikir novel ini bercerita tentang sebuah
percintaan di mana salah satu diantaranya tersakiti kemudian mengikhlaskan
kekasihnya tanpa membencinya. Tapi ternyata bukan, Tere Liye menyajikannya
dalam bentuk cerita yang berbeda dari apa yang saya kira. Sulit memang untuk
mencari tahu biografi dari Tere Liye yang sebenarnya. Dalam novelnya pun
penulis ini tidak pernah mencantumkan biografinya. Hanya menuliskan alamat
email darwisdarwis@yahoo.com dan
alamat fans page di facebook Darwis Tere-Liye. Bahkan, saat saya menghadiri
seminarnya ia meminta nama Darwis itu dihapus saja, karena kebanyakan dari
pembaca mengenalnya dengan nama pena Tere Liye. Sungguh seorang penulis yang
low profile.
Pada saat saya membaca halaman awal novel ini
terdapat beberapa bait kata-kata yang membuat saya mulai memasuki bagaimana
cerita novel ini. Bait pertama “Dia
bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari
kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh,
sekolah dan janji masa depan yang baik.”
Dari bait pertama novel tersebut diceritakan Tania
dan adiknya Dede adalah pengamen cilik yang biasa mengamen dari bus satu ke bus
lain. Sampai pada suatu malam, saat mereka mengamen disalah satu bus kaki Tania
menginjak paku. Mereka memang tidak pernah memakai alas kaki karena tidak mempunyai
cukup uang untuk membeli alas kaki. Hal ini membuat seorang pemuda bernama
Danar tersentuh hatinya. Hingga akhirnya Danar membantu Tania dengan membalut
luka tersebut menggunakan sapu tangan.
Bait kedua dan ketiga dari halaman awal novel
tersebut:
“Dia
sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian
dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu
semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.”
“Ibu
benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku,
Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan
sejak rambutku dikepang dua.”
Sejak saat itu Danar
mengubah kehidupan Tania dan keluarganya. Mereka mulai pindah rumah dari rumah
kardus ke rumah kontrakan. Tania dan Dede pun bisa bersekolah lagi. Danar juga
sering mengajak mereka ke sebuah toko buku yang akhirnya toko buku tersebut
menjadi tempat favorit mereka. Mulai dari toko buku itulah, Tania mulai merasa
jatuh cinta dengan Danar. Sosok pria yang menjadi malaikat di keluarganya. Pria
yang berjarak umur empat belas tahun dengannya. Semenjak saat itu Tania
berjanji akan menghormatinya setelah Ibunya. Ibu Tania mulai sembuh dari
sakitnya dan mulai bekerja menjadi tukang cuci di laundry. Sampai pada suatu
hari Ibu Tania memutuskan untuk membuat usaha kue yang akhirnya usaha tersebut
berkembang pesat.
Waktu pun berlalu, Ibu Tania mulai sakit-sakitan
lagi. Sakitnya pun semakin parah hingga merenggut nyawa ibunya. Tania yang
tegar semenjak sepeninggalan ibunya kini tumbuh menjadi gadis dewasa yang
pintar dan cantik. Tania akhirnya menuruti nasehat Danar untuk melanjutkan sekolahnya ke Singapura dengan
mengikuti progam beasiswa yang diselenggarakan pemerintah.
Bait keempat dari halaman awal novel tersebut: “Sekarang,
ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang
adik yang tidak tahu diri, biarlah.... Biarlah aku luruh ke bumi seperti
sehelai daun.... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan
dari tangkai pohonnya.”
Hubungan komunikasi antara Tania dan Danar pun masih
baik-baik saja meskipun kini Tania melanjutkan sekolahnya di Singapura. Mereka masih
berhubungan melalui chatting ataupun telfon. Hingga akhirnya semua berubah
setelah Tania mendengar kabar bahwa Danar akan menikah dengan Kak Ratna.
Hatinya hancur dan memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan tersebut,
selang dua tahun kemudian Tania memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Saat
bertemu dengan Danar, Tania merasa seperti ada jarak antara mereka. Ia tak
menyangka semudah itukah jarak tersebut ada seperti bumi yang tiba-tiba
merekah.
Novel tersebut dikemas dalam bahasa yang sederhana
sehingga mudah dipahami ketika membacanya. Setting dari certia novel tersebut
juga jelas sehingga kita tidak terlalu sulit untuk mengimajinasikannya. Jalan
cerita yang unik dan menarik seperti diambil dari kehidupan nyata. Dari novel
ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa meskipun kehidupan kita sedang berada
di bawah tetapi jika kita mau berusaha mengubahnya dengan kemauan yang penuh
maka kita bisa mengubahnya. Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini
beralur mundur dan campuran. Kedua alur tersebut membuat saya terkadang sulit
untuk menerka jalan ceritanya. Tapi saya tidak menyesal membaca novel ini,
novel yang memuat banyak pelajaran bagi kehidupan.
B.
JENIS
NOVEL
Novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin” ini beraliran romantis sentimentalis.
C.
PENILAIAN
Unsur intrinsik
dalam novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” adalah:
1. Tema
: Novel tersebut bertema kisah cinta yang tak akan pernah tersampaikan.
2. Sudut
Pandang : Orang pertama pelaku utama.
3. Penokohan:
a. Tania
memiliki sifat tekun, ramah, konsisten dan pantang menyerah.
b. Dede
memiliki sifat pandai, iseng, bisa menjaga rahasia dan polos.
c. Ibu
memiliki sifat tekun, tidak ingin merepotkan orang lain serta sabar.
d. Danar
memliki sifat ringan tangan, pemendam rasa, tanggung jawab.
e. Ratna
memiliki sifat sabar, tidak pencemburu dan tidak suka berperasangka buruk.
4. Gaya
Bahasa:
a. Personifikasi:
1) Hujan
deras turun membungkus kota ini (hal. 13).
2) Menuju
tempat rumah kardus kami dulu berdiri kokoh dihajar hujan deras ditimpa terik matahari (hal.
231)
b. Hiperbola:
Demi membaca e-mail berdarah-darah
itu, esoknya aku memutuskan pulang segera ke Jakarta (hal. 230).
c. Metafora:
Bagian tajamnya menghadap ke atas
begitu saja, dan tanpa ampun seketika menghujam kakiku yang sehelaipun tak
beralas saat melewatinya (hal. 22).
5. Setting
:
a. Tempat : rumah kardus dan kontrakan, toko buku,
asrama.
b. Waktu : pagi, siang, sore, dan malam.
c. Suasana : senang, sedih, hening, duka, rindu.
6. Alur/Plot:
Pada awal cerita novel ini beralur
mundur tetapi pada akhir cerita novel ini beralur campuran.
a. Perkenalan:
Saat Tania kakinya terkena paku
kemudian Danar menolongnya. Mulai saat itulah Danar akrab dengan Tania dan
Dede. Danar pun juga sering mengunjungi keluarga Tania dan mulai akrab dengan
ibu Tania. Kehidupan keluarga Tania juga tertolong semenjak ada Danar.
b. Pertikaian:
Berawal ketika Danar memutuskan
menikah dengan Ratna. Mendengar kabar tersebut Tania memutuskan untuk tidak
menghadiri acara pernikahan tersebut karena ia tidak ingin sakit melihatnya.
Semenjak pernikahan tersebut hubungan komunikasi Danar dan Tania semakin
merenggang.
c. Klimaks:
Pertemuan antara Tania dan Danar di
bawah Pohon Linden, pohon tersebut berada didekat bekas rumah kardus Tania
dulu. Di situlah Tania dan Danar mengungkapkan perasaan masing-masing.
d. Antiklimaks:
Danar dan Tania mengetahui bahwa
Ratna telah hamil empat bulan. Mulai saat itulah Tania memutuskan untuk menetap
di Singapura. Ia tidak ingin kembali lagi ke Indonesia karena tidak ingin
merasakan kembali sakitnya rasa itu dan berusaha mebuang semua kenangan antara
dia dengan Danar.
7. Amanat:
Dalam novel ini beramanat bahwa
ketika kamu menyukai seseorang ungkapkanlah. Ceritakan apa yang sebenarnya kamu
rasakan. Agar kita tidak hanya memendam perasaan saja.
Novel “Daun yang
Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” akan saya bandingkan dengan novel “Rembulan
Tenggelam di Wajahmu”. Novel tersebut adalah salah satu novel karya Tere Liye
sebelumnya yang dicetak pada tahun 2009. Kedua novel ini mempunyai beberapa kesamaan
dalam ceritanya.
Kedua novel ini
mempunyai tema yang sama, yaitu sebuah percintaan yang juga melibatkan masalah
sosial. Diceritakan bahwa sosok Ray yang semula hanya pengamen bisa menjadi
seorang yang bekerja dengan sekelas para insinyur. Begitu juga Tania yang
semula hanya pengamen bisa menikmati pendidikan di Singapura. Kedua tokoh ini
mampu meraih kesuksesan karirnya yang berawal dari seorang pengamen.
Dilihat dari
alurnya kedua novel ini mempunyai jenis alur yang sama pada awal ceritanya
yaitu beralur mundur. Dalam novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu alur mundurnya
terletak pada saat sosok Ray melihat kembali masa lalunya dengan seorang yang
memiliki wajah menyenangkan.
Setting novel
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu hampir sama dengan Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin. Pada novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu juga mengambil setting
di rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Ray sebelum ia menikah. Kedua
novel ini mempunyai jenis penokohan yang sama dengan melibatkan tokoh yang baru
disetiap ceritanya tetapi juga tidak melupakan peran tokoh utamanya.
Kesamaan dalam
teks dari kedua novel tersebut diantaranya:
1. Mempunyai
tempat yang difavoritkan oleh tokoh utama dalam kedua novel.
a. Malam
ini, entah sudah berapa kali aku tersenyum, menyeringai sendirian berdiri di
balik kaca jendela lantai dua toko buku.
Dan tahukah, itulah yang aku lakukan sepanjang seminggu terakhir ini.
Menatap pemandangan yang sam adi depan. Mengenang kenangan yang sama. Aku
seperti kaset yang memutarulang semua kejadian itu. (Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin, hal. 51).
b. Ray
menghela napas. Tidak ada rembulan, peduli amat, dia masih bisa duduk di atas tower air milik warga. Maka melangkah Ray menuju
tiang-tiang besi. Memanjat tiang tower setinggi sepuluh meter. Kemudian duduk
menjuntai persis di sebelah gentong raksasa berwarna merah muda. (Rembulan
Tenggelam Di Wajahmu, hal. 149).
2. Salah
satu tokoh tidak memberikan identitas dari setiap karyanya.
a. “Kamu
pernah membaca buku ini, kan?” Dia menunjuk sebuah dongeng. Aku mengangguk.
Buku itu bagus. Favoritku malah. Aku menyimpannya di dekat tempat tidur. Selalu
kubaca berulang-ulang.
“Akulah yang menulisnya”. Dia
tersenyum.
Aku tak mengerti menatapnya
berkejap-kejap.
Bukan karena tak percaya. Tetapi sungguhkah?
“Bukan.... di sana yang emnulisnya
berbeda?”
Dia tersenyum sambil mengusap
rambut hitam legamku yang malam itu kubiarkan tergerai. Menyengir kecil.
“Yaa....
itu nama lainnya , Tania. Nama
samaran.... alias.”
(Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin, hal. 69).
b. “sepuluh
tahun kemudian, saat Ilham sudah benar-benar siap, kesempatan baiknnya baru
datang. Kau tidak tahu memang karena Ilham selama sepuluh tahun terakhir itu
selain belajar bagaimana membuat lukisan yang baik, juga mendapat bonus dari
kegagalan sebelumnya: belajar tentang
kerendahan-hati. Ilham memutuskan
untuk menuliskan nama disetiap lukisannya.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu,
hal. 170).
3. Kedua
novel ini menceritakan tokohnya sebagai pengamen sebelum mereka meraih sukses.
a. Sudah
empat lagu, bus hampir tiba di tujuan akhirnya. Cukup. Aku mengeluarkan kantong
plastik lecek bekas permen. Mengedarkannya dari depan ke belakang. Berharap
kebaikan sedang bersemayam di hati orang-orang yang sedang kelelahan tersebut.
Adikku mengintil mengikuti. Kencrengan tutup botol masuk kantong celana kumuh.
(Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin, hal. 22).
b. Ray
bangun saat matahari pagi sudah tinggi. Mandi seadanya, lantas berangkat
menenteng gitar menuju stasiun terdekat. Memulai hari dengan mengamen.
Mengakhiri hari dengan mengamen. Pulang larut malam. Kelelahan. Langsung
tertidur di atas selembar tikar butut dan bantal tengik.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu,
hal. 143).
4. Membuatkan
makanan untuk seseorang yang dicintai.
a. Itu
pujian ketiganya selama satu setengah tahun terakhir. Dan demi menatap mata
bercahaya itu, aku segera berjanji dalam hati: setiap minggu aku akan selalu membawa kue buatanku untuknya: dan... aku
hanya akan membuat kue untuknya.
(Daun yang Jatuh Tak PERNAH
Membenci Angin, hal. 49).
b. Kiriman-kiriman
Puding Pisang dari Vin. Surat-surat dari Vin. Gadis itu rajin mengirimkannya.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu,
hal. 355).
5. Kehilangan
sosok orang yang berarti dalam kehidupannya.
a. Aku
tahu apa maksudnya. Karena dalam sekejap kemudian Ibu sudah jatuh tertidur. Aku
berteriak panik. Dia dan Kak Ratna berlari tergesa masuk ke dalam ruangan. Ibu
tak pernah bangun lagi dari pingsannya.
(Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin, hal. 61).
b. Ray
mengangguk pelan. Sungguh. Ya Tuhan, dia sungguh ridha dengan apa yang
dilakukan istrinya selama ini. Sungguh ikhlas atas semua perlakuak istrinya.
Dan anggukan itu “mahal” sekali harganya. Anggukan itu mengantar semuanya.
Mata indah istrinya pelan menutup.
Pergi. Selamanya.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu,
hal. 310).
6. Meninggalkan
rumah yang penuh dengan kenangan agar bisa sedikit demi sedikit melupakan
kenangan indah tersebut.
a. Sehari
setelah Ibu meninggal, aku dan adikku pindah ke kontrakannya. Kontrakan Ibu
dikosongkan (”Biar mereka bisa segera
melupakan semua kejadian menyakitkan ini,” itu katanya kepada Kak Ratna
saat berbenah-benah pindah).
(Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin, hal. 67).
b. Hari
ini Ray memutuskan pergi. Pergi menjauh. Dia tidak kuasa berada di rumah lereng
perbukitan. Setiap kali berada di sana, semua kenangan itu kembali mengungku ng
kepala. Jangankan menatap rajutan pakaian bayi itu, hanya menatap rumah, Ray
seolah-olah bisa melihat mereka berdua saling menggelitiki. Tertawa.
(Rembulan Tenggelam Di Wajahmu,
hal. 322).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar